Takiran Di Likuran, Begini Filosofinya

146
Foto: Ilustrasi (Internet)

darmakradenan.com– Penelitian ini dilatar belakangi adanya tradisi takiran yang dipahami oleh masyarakat Darmakradenan sebagai warisan nenek moyang untuk terhindar dari gangguan dan malapetaka, ataupun rasa syukur baik secara mandiri ataupun kelompok.

Sehingga tradisi ini selalu dilakukan setiap tahun pada akhir di tanggal ganjil bulan Ramadhan selain bulan Ramadhan juga dilakukan di bulan syuro. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori Interpretasi Budaya oleh Cliffort Geertz dan teori Interaksi simbolik oleh George Herbert Mead.

Alasan menggunakan kedua teori tersebut karena dalam tradisi takiran banyak simbol yang perlu untuk dikaji filosofinya. Karena itu, metode dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan Fenomenalogi. Seperti dikutip di One Search Perpustakaan Nasional.

Ditulisnya, hal ini karena pendekatan Fenomenalogi berfokus keoada pengalaman-pengalaman subjektif manusia dan interpretasi-interpretasi dunia.

Asal usul adanya tradisi takiran di Desa Darmakradenan dimulai sejak pemerintahan Kepala Desa pertama diperkirakan sudah ada sejak tahun 1928. Adma Mertodiwiryo merupakan Kepala Desa pertama pada masa itu.

Baca Juga :  PPL Ajibarang dan BRI Satria Distribusikan Kartu Tani

Prosesi acara tradisi takiran dari tahun ke tahun hampir sama, diawali dengan membaca surat al-Fatihah dan diakhiri dengan do’a penutup dan membaca lafadz alhamdulillah (hamdalah) secara bersama-sama.

Seperti saat ini di bulan Ramadhan, pada malam-malam likuran, yaitu malam-malam ganjil mulai malam 21 sampai 29 Ramadhan. Suasana di Mushola dan Masjid usai melaksanakan sholat tarawih, takiran dengan berisi nasi dan lauk pauk ada yang dimakan ditempat dan ada yang dibawa pulang.

Hanya saja pada masa sekarang ditambah sambutan-sambutan. Filosofi dari takir yakni “taqwa” dan “dzikir” yang merupakan wadah amalan kita sebagai makhluk tuhan yaitu Alloh SWT. Dalam tradisi takiran, takir juga digunakan sebagai wadah makanan masyarakat sebagai wujud utama dari tradisi tersebut.

Selain itu, dalam kegiatan tradisi takiran juga terdapat saling bertukar makanan antar masyarakat yang memiliki filosofi supaya antar sesama bisa saling merasakan rasa nikmat yang sama tanpa membedakan pangkat dan jabatan.